Text
Bung Hatta : kisah hidup dan pemikiran sang arsitek kemerdekaan
Gus Dur menggambarkan karakter Bung Hatta sebagai tokoh yang mampu ngemong orang banyak dengan arif dan bijaksana. Maka, ketika beliau menghembuskan napas terakhir, banyak orang merasa kehilangan dan meneteskan air mata. Dan sekarang, ketika krisis keteladanan akut melanda bangsa ini, ketokohan Bung Hatta dicari-cari kembali dalam puing-puing ingatan. Nama asli beliau aadlah Mohammad Attar, merujuk pada seorang tokoh sufi dan penyair asal Persia, Fariduddin Attar. Meskipun bukan dikenal sebagai seorang sufi, melainkan sebagai seorang intelektual dan negarawan, hidup Bung Hatta sudah sarat dengan semangat sufisme karena kesederhanaan dan kejujurannya. Setelah lulus dari pendidikannya di Belanda, Bung Hatta kembali ketanah air pada tahun 1932. Salah satu bentuk perjuangannya untuk mencapai kemerdekaan bangsa ini adalah dengan memperkuat keberadaan dan gerakan partainya, Pendidikan nasional Indonesia (PNI) sebagai ajang kaderisasi. Selain begitu banyak bentuk perjuangan beliau, salah satu hal yang sangat dikagumi adalah Bung Hatta memilih hidup sederhana, beliau tidak pernah mau bermain proyek, menjadi direktur atau komisaris perusahaan dan jabatan lainnya yang memungkinkannya untuk hidup mewah dan kaya. Bahkan di akhir hayatnya, Bung Hatta tidak dimakamkan di Taman Makan Pahlawan, tetapi di TPU Tanah Kusir.
Tidak tersedia versi lain